Minggu, 19 Juni 2016

Emping

Alhamdulillah, sahur seadanya dan secukupnya.
Yang istimewa dari sahurku pagi ini adalah adanya lauk sepesial masakan isteriku. Emping Goreng bumbu royko. Aku seneng banget dengan emping. Entah kenapa dari kecil emping selalu mendapat tempat istimiwir di perut ini. Disamping karena dia mampu mengundang air lebih banyak untuk masuk ke perut, alias marake ngorong. Kudu ngombe sing akeh.
Sayure kangkung, karo lawuh ayam pemberian saudaraku Fatkurrozi (Lukito). Tadi malem buka bersama sedulur SKSD. Sebelum pulang saat aku mengambil bingkisan untuk aku antarkan ke si kembar yang yatim piatu itu. Fatkhur memberiku bungkusan lauk asobah dari buka bersama tadi. Matursuwun semoga berkah panjang umur.
Ada kesempatan untuk duduk di teras sambil orat-oret facebook. Sambil menikmati sebatang kretek filter. Duduk di jonggol mendengarkan suara tadarus bersautan, dari masjid ke masjid. Duduk meunggu waktu imsak.
Sesekali terdengar suara burung malam, burung entah apa, namun keluarnya jika malam hari. Dulu anakku sempat takut sekali dengan suara burung malam itu. Suara nyaring burung sesekali bersautan dengan suara kokok ayam jago. Indah sekali pagi ini. Mereka semua bertasbih mengagungkan sang khalik.
Aku teringat akan segitiga hitam, ya segitiga hitam. Nantikan dalam tulisan kumpulan hastag ‪#‎asukluruk‬.
Imsak datang, selamat berpuasa. I Love you semua….

Menanti Baik, Segitiga Hitam ‪#‎asuluruk‬


Alhamdulillah, sahur seadanya dan secukupnya.
Beberapa rentang waktu ini pikiranku agak terusik dengan segitiga hitam. Ada yang berfikir segitiga hitam itu celana dalam, atau sempak. Bukan. Segitiga hitam banyak muncul saat ramadhan. Kemunculan yang pelan dan perlahan. Awalnya sedikit sakit, bahkan perih. Namun lama kelamaan, terbiasa dan menjadi sangat biasa.
Ada yang sedih dan risih, ada pula yang sengaja menghadirkannya dalam penantian. Ya menantikan kemunculan segitiga hitam. Yang pasti bukan segitiga bermuda.
Ada yang berharap, ada pula yang tidak peduli. Bagi sebagian orang, dengan paham pemikiran tertentu, kemunculan segitiga hitam itu ditunggu. Bahkan diciptakan dengan cara-cara yang biasa, hanya saja, dengan pose dan penekanan lebih mendalam. Opo maneh iki…….
Segitiga hitam di jidat. Itu yang aku maksud.Sebagai efek banyak sujud. Dalam bahasa yang lebih religi "Simahum fii Wujuhihim Min Atsaris Sujud". Tanda tanda mereka di wajah-wajah mereka dari bekas-bekas sholat mereka.
Segitiga hitam sebagai min atsaris sujud tentu bisa dilihat oleh semua orang. Tanda dari jidat-jidat yang tidak mungkin ditutupi. Namun bisa dengan sengaja kita bikin, tidak dengan pulas poles atau cat yang kita tempel, tapi dengan sujud yang sedikit ditekan, lama dan menggunakan pose sujud tertentu. Jika sebagian besar berat badan tertumpu pada jidat maka dalam tempo dekat, segitiga hitam pasti terbentuk, pasti.
Nah lumrahnya sujud berat badan kita tumpu dengan telapak tangan, lutut dan ujung jari kaki. Namun dengan sedikit melepaskan tumpuan pada telapak tangan, tumpuan akan berpindah ke jidat. Cara ini efektif sekali menciptakan bekas sujud pada jidat. Orang jawa biasa menyebut bathuk.
Adanya tanda hitam bisa menjadi cara komunikasi yang baik, untuk menciptakan kesan baik kepada sesama. Lho kok begitu, iya karena akan berfikir. Oh orang ini sujudnya pasti mantap, sholatnya khusuk dan sering. Alhamdulillah dia orang baik. Pasti bukan koruptor, bukan pula pencuri sapi. Bukan lagidoyan main perempuan. Aaah sudahlah, dia orang baik.
Aaaah segitiga hitam…. Kehadiranmu dinanti untuk kesan baik yang mengiringi. Semoga baik dan ternyata konon BAIK SAJA TIDAK CUKUP. Wallohua’lam bi showab.
Kendal, 8 Ramadhan 1437 H
14 Juni 2016

KEBAIKAN YANG BAIK HARUS BAIK. ‪#‎asukluruk‬


Ya Arhama rohimin.
Taqobalaloohu mina waminkum
Hari kesembilan ramadhan tahun ini, sahur seadanya dan secukupnya. Jangan kacang dan tahu crypsi eh btw crypsi atau crispy, atau cripsi. Ah entahlah. Begitu jam empat pagi, aku duduk di teras depan rumah, memangdang langit. Kubawa segelas teh hangat dan sebutir jeruk manis dingin dari kulkas. Selang menulis beberapa paragraph aku lupa bawa udud. Alamat rak udud, aduuuuh.
Kumandang kalimah toyibah di langit-langit Kajen dan Nokerto terdengar bersautan dengan alunan qiroah, tadarus dan tarkhim. Semua keras, semua jelas sehingga menjadi paduan yang khas. Mbrebeg. Masuk juga ketelingaku suara kokok jago tetangga, di kanan maupun kiri, suara jangkrik, suara tangis anak tetangga.
Kearah utara, lorong gelap dengan lampu remang yang jauhnya sekitar 25 meter. Seekor kunang-kunang terbang, kekanan dan kekiri, berbalik, kedipnya hijau muda kekuningan. Ya kunang-kunang terbang dan kadang kukira hilang saat lampunya tidak menyala lama.
Sirine dan seruan imsak datang, masih belum mampu pikiranku focus pada satu tema yang akan menjadi fokus #asukluruk.
Begini, bahwa sudah menjadi ihwal lumrah bahwa semua pedagang di televisi menawarkan sorga versi mereka. Lho…? Ya saksikan tayangan TV dari pagi hingga pagi lagi, semua produk yang ditawarkan iklan, menawarkan puluhan, ratusan bahkan sejuta kebaikan. Baik itu iklan yang disampaikan oleh bintang iklan yang mendadak baik dan religious, oleh bintang iklan yang konon adalah ustad atau ustadzah, bintang iklan yang menjadi ustadz, ustadz yang menjadi bintang iklan, atau iklan yang dibintangi oleh pejabat, ah entahlah, semua produk menawarkan kebaikan-kebaikan khas ramadhan. Dilain waktu tidak, yakin tidak.
Dijaman ini, bintang iklan bisa menjadi ustadz, ustadz menjadi bintang iklan, pejabat menjadi bintang iklan, bahkan orangnya sudah meninggalpun iklannya masih ada, terus duitnya kemana gitu….. eh entahlah.
Produk minuman dan makanan terrutama yang paling parah menawarkan kebaikan, kalau kemudian meminum itu merupakan kebaikan, berarti meminum itu dapet pahala dong, berarti juga bisa membuat kita (cara gobloknya) masuk sorga. Wow…… apakah produk-produk itu sedang menawarkan sorga, atau minimal jalan ke sorga? Wow….. edan maneh iki.
Ini, bahwa pada jaman kanjeng nabi hal seperti ini tentu belum ada, kebaikan atau berbuat baik denga membeli produk ini. Jadi hanya dengan membeli produk ini, anda akan tercatat melakukan perbuatan baik, lha bayangkan saja, andai saya punya duit, terus produk dengan sejuta kebaikan itu saya borong semua, lho saya orang baik banget……
Lha terus yang memproduksi, yang menjadi karyawan pabrik, manajemen pabrik, bahkan pemilik pabrik, komisaris pengelola perusahaan, pemilik saham, lhah….. produknya saja menawarkan kebaikan, mereka?
Baik. Apakah ada kebaikan yang baik diproduksi oleh tangan-tangan yang tidak baik? Baiklah, maka kemudian kebaikan bisa dikatakan baik jika semua yang mejadi titik tolak awal adanya kebaikan adalah hal baik. Mumet?
Baiknya begini, jika betul itu produk membawa kebaikan, maka kebaikan itu dilakukan oleh orang baik, diproduksi oleh tangan-tangan baik, dilakukan dengan cara yang baik, dimodali dengan modal yang baik, dan dimiliki oleh orang yang baik, baiknya begitu agar bisa dikatakan baik. Iki jelas kakehan baik. Baik.
Sebab tidak mungkin barang baik bisa dikaakan baik jika disampaikan oleh orang tidak baik, misalnya produk ini baik dan membawa kebaikan dan ternyata yang menyampaikan adalah orang yang dibayar untuk acting baik. Ini tidak baik, dan seterusnya.
Ah ramadhan bulan baik, harus orang baik yang megatakannya, agar kita bisa percaya. Jangan percaya saya karena saya bukan orang baik. Saya akan baik jika anda percaya bahwa saya orang baik. Sebaiknya begitu. BAIK.
Kendal 15 Juni 2016.

Ayam, bukan kami kejam. ‪#‎asukluruk‬


Sahur seadanya dan secukupnya. Semalam, bakda maghrib, aku, isteri dan anakku, berjamaah sepakat memisahkan Sembilan ekor anak ayam dengan induknya. Ada rasa bersalah dalam hati. Ayam yang baru berusia kurang dari seminggu, masih butuh kehangatan dekapan induknya, harus berpisah.
Dari sudut anak ayam, kesembilannya berfikir, alangkah kejamnya saya. Aku yang menangkap mereka, kemudian memasukan anak ayam kedalam kardus, isteriku telah menyiapkannya. Kardus itu kami yang membuatnya, untuk memberi kehangatan dan kami kasih gantungan karena kardus tidak akan kami letakkan dibawah. Tapi kami gantung dekat lampu, agar ada kehangatan yang bisa dirasakan anak ayam itu.
Sembilan anak ayam yang masih baru menetas, kehangatan dan kasih sayan induknya sangat mereka butuhkan. Aku pisahkan mereka. Ada ketakutan, pasti. Terbukti saat mereka aku masukkan, cicit teriakan mencari kehangatan induknya terdengar ramai berai. Ada rasa tidak tega, tapi….!
Ah entahlah. Induk ayamnya? Induk ayam itu adalah hadiah dari mbah Buyut anakku di Banyumas sana. Ada tradisi memberikan anak ayam buat buyut. Seekor ayam betina, yang bisa beranak pinak. Alhamdulillah. Induk ayam ini sudah menetaskan beberapa ekor ayam, bahkan keturunan dari induk ayam inilah, yang beberapa waktu lalu digunakan sebagai ingkung slametan, pernikahan Mbok Rondo dengan Pria yang juga sudah duda, jumat sebelum ramadhan.
Induk ayam ini pasti berfikir saya adalah manusia kejam, tidak berperi kebinatangan. Susah payah mengerami, berhari-hari puasa demi bisa memperoleh suhu badan panas yang sesuai dengan ketentuan yang Allah tentukan, agar telor bisa berubah menjadi anak ayam. Kini dia harus rela berpisah dengan Sembilan anaknya. Entah dia menghitung atau tidak, tapi ketika ada satu diantara Sembilan itu tercerai maka, induk ayam pasti akan panik. Maaf…
Kami tidak kejam, Yam, ayam. Justeri inilah ekpresi dan bentuk kasih saying kami kepada kalian. Induk ayam, maafkan kami, sekali lagi ini bukan kekejaman. Justeru kami kejam jika membiarkanmu begitu saja. Kamu masih bisa bertemu dengan anak-anakmu beberapa saat lagi, toh mereka lebih aman jika terpisah denganmu, yakinlah.
Anak-anak ayam, maafkan kami, kalian harus hidup terpisah dengan induk kalian. Bukan berarti kalian terpisah lama, ketika kalian sudah cukup usia, kami akan melepaskan kalian. Percayalah. Kalian bisa selalu bersama. Berkumpul menempel dan saling memberi kehangatan satu sama lain. Pasti bisa.
Tikus. Semua adalah katrena ulah si tikus. Dia telah mengambil delapan dari Sembilan ekor anak ayam yang baru menetas juga. Tikus bukan saja lambing korupsi dengan bentuk yang menjijikkan, tapi kelakuannya adalah kekejaman yang nyata. Tikus telah membunuh dan memakan delapan anak ayam dari induk lain. Kini induk ayam iu juga sedang erana menderita karena kehilangan anak-anaknya. Pasti.
Demi menyelamatkan Sembilan ekor anak ayam yang baru menetas itu, aku memisahkannya. Isteriku sudah membeli pakan. Kami yang akan membantu memberi makan dengan Voor (Pur). Meskipun kami tidak bisa memberikan kasih sayang, seperti kasih sayang dari induk ayam. Namun minimal mereka terbebas dari ancaman maut Tikus laknatullah alaihi.
Anak-anak ayam yang jumlahnya Sembilan ini, punya hak hidup dan hak menjalani takdir dan fungsi mereka sebagai ayam. Semoga.
Kyai Suwung Haryo Waskito
Kendal, 12 Ramadhan 1437 Hijriyah. (17/6/2016)

JANGAN MENGIRA ‪#‎asukluruk‬

JANGAN MENGIRA ‪#‎asukluruk‬
inspired by Anggrahini Kd
Jangan mengira orang-orang yang tampak selalu senang hidupnya hanya berisi tawa. Jangan mengira orang-orang yang di sosial medianya ceria, hari-harinya tidak pernah muram durja.
Jangan mengira orang-orang yang tampak selalu muram durja hidupnya hanya tangis dan air mataa. Jangan mengira orang-orang yang di sosial medianya sedih dan sambat, hari-harinya tidak pernah senang.
Jangan mengira orang-orang yang tampak selalu senang hidupnya hanya berisi tawa. Jangan mengira orang-orang yang di sosial medianya ceria, hari-harinya tidak pernah muram durja.
Jangan mengira orang-orang yang tampak selalu muram durja hidupnya hanya tangis dan air mataa. Jangan mengira orang-orang yang di sosial medianya sedih dan sambat, hari-harinya tidak pernah senang.
Jangan mengira bahwa senang itu senang
Jangan mengira bahwa susah itu susah
Jangan mengira bahwa senang itu susah
Jangan mengira bahwa susah itu senang
Jangan mengira
Kalau hanya di dunia maya.
Jangaaaaaannnnn....
Tugumuda 17 Juni 2016

Islamisasi Yes, Arabisasi No

Islamisasi Yes, Arabisasi No,Aja kaya Kacang Lupa Kulitnya
‪#‎asukluruk‬ 13 Ramadhan 1437 H / 18 Juni 2016
Saur seadanya dan secukupnya. Sebelum keluar kedepan, teras rumah, memandang kubah musholah. Menatap langit dengan kerlip bintang, samar. Indosiar menayangkan seri Aksi, saya kurang suka dengan tayangan ini, bangun tidur usai ini itu dan mengambil makan sahur, yang aku cari adalah siaran langsung Euro di Prancis. Spanyol Vs Turki. Tidak perlu berfikir materi bagus atau jelek, tampan atau cantik, acting ketika harus tersingkir, komentar ini itu aaah
Sepak bola lebih pyur dalam menayangkan kerja keras dan usaha lari sana sini demi memasukkan bola kedalam gawang. Yaaa permainan lelaki satu ini memang joz, meski kini perempuan dengan isu gendernya, eh sejak dulu ding, ada juga yang main bola. Ya sadar atau tidak, mau atau tidak mau, bahkan setuju atau tidak setuju, olahraga sepakbola adalah olahraga pria. Sepakbola, tinju, basket, gulat. Ukurannya begini, permainan itu indah jika yang bemain pria. Iya to…. Coba kalau yang main sepakbola wanita, atau olah raga lainnya, pasti deh ada rasa yang kurang menarik. Ini versi saya lho, anda boleh tidak setuju.. mari berfikir.
Kembali ke jonggol, tadi itu di indosiar adalah Syarif, peserta Aksi Indosiar yang tampil menyampaikan materi kepahlawanan Hanoman. Jangan sampai kita sebagai manusia kalah dengan Hanoman. Saya berfikir, kapan ada kita bersaing dengan Hanoman? Wkwkwk goblok to saya, mikir itu semua. Ah ngapain juga.
mama Dedeh komentar bahwa sarif bagus menyampaikan wayang mengingat sebain penonton oranh jawa. wijayanto komen menyebit istilah arab yang di jawakan. inilah yang mmbut saya tehenyak sedikit melirik, menjadi tema dalam cerewet tulisan saya ini. wwwwwwwkkkkk.
Maksud saya begini, anda tau walisongo? Hahahah ini pertanyaan konyol. Jelas tau. Sebagian walisongo adalah warga asli jawa, sebagian lagi warga keturunan, atau naturalisasi. Anda tau bahwa walisongo, mengislamkan penduduk nusantara dengan pendekatan budaya kata orang akademik disebut sebagai akulturasi.
Sunan bonag menciptakan gending, gamelan wayang dan sebagaina sebagai sarana dakwahnya. Sunan kalijogo menciptakan tokoh wayang dan lagu-lagu jawa sebagai wasilatutdakwah. Konon masyarakat disuguhi pertunjukan wayang dalam area masjid. Oleh sunan Kalijogo, Siapa saja boleh masuk dan melihat pertunjukan asal dengan kesadarannya mereka bersuci kemudian membaca dua kalimah shahadat. Baru setelahnya, masyarakat dikasih materi keislaman.
Nenek moyang kita, masuk islam dengan cara-cara dan pendekatan budaya. Tidak memaksa dan tertarik mengingat islam disampaikan dengan cara yang simpatik. Konon begitu.
Sekarang? Ah beda jaman, budaya juga sudah bergeser. Akulturasi sudah berubah warna dan corak. Yang sudah banyak ditinggalkan. Konon katanya masjid-masjid sudah berubah dari masjid jawa ke masjid versi timur tengah. Entahlah
.
Teringat pernyataan pemipin grup sholawat dari salatiga, yang menyampaikan kekhawatirannya bahwa masyarakat islam di jawa tengah, jawa timur atau jawa barat, kemudian menjadi mengharamkan atau menjauhi gending, gamelan, kendang, bonang, slenthem, rebab, gong, saron calung dan sebaginya. Karena semua alat-alat gamelan tadi diharamkan oleh syeh atau ustadz timur tengah. Bwah……
Mereka warga islam jawa, lupa bahwa mereka menjadi islam, memeluk agama islam, ayah ibu mereka muslim, mbah mbah buyut moyang mereka muslim, atas jasa Sunan- sunan dan wali di tanah jawa menggunakan cara-cara jawa. Bahkan para syeh dari tanah sebrang itu, sekarang tidak lagi kemudian bedakwah mengajak memeluk islam. Kebanyakan mereka menyampaikan materi ilmunya juga kepada orang-orang yang sudah islam. Lhoh…. Iya toh…..
Kembali ke si bapak tadi, maksud saya pimpinan grup sholawat dari Kabupaten semarang itu, dia mengatakan begini. Saya berkendara dari anyer sampai ke Jawa bagian timur sekali, masjid-masjid bernuansa jawa sudah tidak ada, dipinggir-pinggir jalan raya, semua masjid sudah sangat bagus, megah dan indah. Tapi ini masjid versi timur tengah. Bukan masjid-masjid versi jawa. Lho kita tinggal di jawa, bukan di timur tengah, apakah jawa akan di jadikan timur tengah, tidak kan?
Dan leih miris lagi, tidak ada satu masjidpun memiliki gamelan sebagai pendekatan sarana mengumpulkan jamaah. Kalah dengan gereja yang ada di semarang, seminggu tiga kali, remaja-remaja gereja dilatih gamelan. Wow……..
Yang tersisa di masjid-masjid kita tinggal beduk atau jidur. Ya. Paling banyak rebana dan itu jelas bukan dari kita sebagai budaya jawa asli. Iya kan?
Pertanyaannya adalah…… )tak sholat subuh sek ya….) begini, akankah kita sebagai orang jawa melihat dan menyaksikan ramalan joyoboyo, Bahwa aka nada mas dimana wong jowo gari separo, wong jawa ilang jawane, pasar ilang kumandange.
“Kata tetagga sebelah” Wong jawa gari separo....tinggal orangnya saja jawa, masih bahasa jawa, masih suka rawon,pecel dan sambel terasi...suluk kulo nuwun sudah hilang. Pakaian jarik kebaya yang pakai malah orang bali...otak dan hatinya sudah bukan jawa apa lagi budayanya... Jawa artinya tidak punya musuh kenyataanya rukun sama saudara sendiri aja tidak. Saling curiga iya...
Yang konon selalu diributkan kalau nggak uang ya agama. padahal agama itu sekedar peta dan aturan lalu-lintas menuju tuhan mau liwat manapun silahkan mau pakai nama tuhan yang manapun silahkan..
Bung Karno pernah berpidato.”kalau jadi hindu jangan jadi orang india, kalau jadi islam jangan jadi orang arab, kalau jadi kristen jangan jadi orang yahudi. tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini.
Artinya kita kehilangan jatidiri sebagai orang dengan tumpah darah di tanah jawa, menjadi manusia yang seperti kacang lupa kulit, mangan, turu, ngising, lahir, dolan, gedi di tanah jawa, sekolah pinter di tanah jawa, gurunya orang jawa, namun setelah itu lupa siapa kita, menjunjung tinggi budaya timur tengah. Aaaah Islamisasi Yes, Arabisasi No.
Salam seduluran.
Kendal 18 Juni 2016.

Ramadhan atau Ramangan ‪#‎asukluruk‬


Alhamdulillah, Sahur seadanya dan secukupnya. 14 Ramadhan 1437 Hijriah (19 Juni 2016)
Sungguh semrawut dan sulit fokus aku pagi ini, entah karena makan sahur yang sama sekali jauh dari standar gizi yang disarankan dokter atau karena hawa dingin yang muncul pasca hujan semalem. Atau mungkin karena tadi tendangan penalty Kristiano Ronaldo gagal menembus gawang Austria. Bola justeru mengenai tiang gawang sebelah kanan. 

Bisa juga karena kepanikan panjang yang terpaksa membuat aku merasakan hujan lebat dari sendang kulon sampai pombensin weleri, balik lagi sampai nokerto. Tanpa jas hujan hanya dengan kaos hitam kiai kanjeng.

Aaaah kemarin itu hari yang super sekali. Aku sedikit kurang nyaman (agak marah juga) sebenarnya terlalu jauh kalau dibilang marah. Enggak marah, hanya tidak nyaman sama sekali. Sedari pagi anakku diajak ke pasar weleri oleh simbahnya dan hingga jelang ashar belum pulang juga. Hujan mengguyur weleri sejak bakda dhuhur awal. Aku yang paning dirumah stress. Mondar mandir, kesana kemari tiap ada suara motor, berharap anakku pulang. Hingga akhirnya aku dan isteriku sepakat menyusul ke weleri.


Sampai akhirnya kami berpapasan dekat pom bensir timur, masih dalam guyuran hujan cukup lebat. Yaaaa takdir menggariskan bahwa hari ini kami harus begini. Bismillahi tawakaltu ‘alallooh.
Imsak pagi ini, aku menerima kabar bahwa Tambak Banyumas terjadi banjir. Tambah panik, tak bisa aku lanjutkan menulis. Speechless. Blank…… Pasrah Pad Mu Allah. Berfikir tentang saudara kami, sahabat kami, sawah kami. Semoga baik-baik saja. Amin.
(Kendal, 19/6/2016)