Minggu, 19 Juni 2016

JANGAN MENGIRA ‪#‎asukluruk‬

JANGAN MENGIRA ‪#‎asukluruk‬
inspired by Anggrahini Kd
Jangan mengira orang-orang yang tampak selalu senang hidupnya hanya berisi tawa. Jangan mengira orang-orang yang di sosial medianya ceria, hari-harinya tidak pernah muram durja.
Jangan mengira orang-orang yang tampak selalu muram durja hidupnya hanya tangis dan air mataa. Jangan mengira orang-orang yang di sosial medianya sedih dan sambat, hari-harinya tidak pernah senang.
Jangan mengira orang-orang yang tampak selalu senang hidupnya hanya berisi tawa. Jangan mengira orang-orang yang di sosial medianya ceria, hari-harinya tidak pernah muram durja.
Jangan mengira orang-orang yang tampak selalu muram durja hidupnya hanya tangis dan air mataa. Jangan mengira orang-orang yang di sosial medianya sedih dan sambat, hari-harinya tidak pernah senang.
Jangan mengira bahwa senang itu senang
Jangan mengira bahwa susah itu susah
Jangan mengira bahwa senang itu susah
Jangan mengira bahwa susah itu senang
Jangan mengira
Kalau hanya di dunia maya.
Jangaaaaaannnnn....
Tugumuda 17 Juni 2016

Islamisasi Yes, Arabisasi No

Islamisasi Yes, Arabisasi No,Aja kaya Kacang Lupa Kulitnya
‪#‎asukluruk‬ 13 Ramadhan 1437 H / 18 Juni 2016
Saur seadanya dan secukupnya. Sebelum keluar kedepan, teras rumah, memandang kubah musholah. Menatap langit dengan kerlip bintang, samar. Indosiar menayangkan seri Aksi, saya kurang suka dengan tayangan ini, bangun tidur usai ini itu dan mengambil makan sahur, yang aku cari adalah siaran langsung Euro di Prancis. Spanyol Vs Turki. Tidak perlu berfikir materi bagus atau jelek, tampan atau cantik, acting ketika harus tersingkir, komentar ini itu aaah
Sepak bola lebih pyur dalam menayangkan kerja keras dan usaha lari sana sini demi memasukkan bola kedalam gawang. Yaaa permainan lelaki satu ini memang joz, meski kini perempuan dengan isu gendernya, eh sejak dulu ding, ada juga yang main bola. Ya sadar atau tidak, mau atau tidak mau, bahkan setuju atau tidak setuju, olahraga sepakbola adalah olahraga pria. Sepakbola, tinju, basket, gulat. Ukurannya begini, permainan itu indah jika yang bemain pria. Iya to…. Coba kalau yang main sepakbola wanita, atau olah raga lainnya, pasti deh ada rasa yang kurang menarik. Ini versi saya lho, anda boleh tidak setuju.. mari berfikir.
Kembali ke jonggol, tadi itu di indosiar adalah Syarif, peserta Aksi Indosiar yang tampil menyampaikan materi kepahlawanan Hanoman. Jangan sampai kita sebagai manusia kalah dengan Hanoman. Saya berfikir, kapan ada kita bersaing dengan Hanoman? Wkwkwk goblok to saya, mikir itu semua. Ah ngapain juga.
mama Dedeh komentar bahwa sarif bagus menyampaikan wayang mengingat sebain penonton oranh jawa. wijayanto komen menyebit istilah arab yang di jawakan. inilah yang mmbut saya tehenyak sedikit melirik, menjadi tema dalam cerewet tulisan saya ini. wwwwwwwkkkkk.
Maksud saya begini, anda tau walisongo? Hahahah ini pertanyaan konyol. Jelas tau. Sebagian walisongo adalah warga asli jawa, sebagian lagi warga keturunan, atau naturalisasi. Anda tau bahwa walisongo, mengislamkan penduduk nusantara dengan pendekatan budaya kata orang akademik disebut sebagai akulturasi.
Sunan bonag menciptakan gending, gamelan wayang dan sebagaina sebagai sarana dakwahnya. Sunan kalijogo menciptakan tokoh wayang dan lagu-lagu jawa sebagai wasilatutdakwah. Konon masyarakat disuguhi pertunjukan wayang dalam area masjid. Oleh sunan Kalijogo, Siapa saja boleh masuk dan melihat pertunjukan asal dengan kesadarannya mereka bersuci kemudian membaca dua kalimah shahadat. Baru setelahnya, masyarakat dikasih materi keislaman.
Nenek moyang kita, masuk islam dengan cara-cara dan pendekatan budaya. Tidak memaksa dan tertarik mengingat islam disampaikan dengan cara yang simpatik. Konon begitu.
Sekarang? Ah beda jaman, budaya juga sudah bergeser. Akulturasi sudah berubah warna dan corak. Yang sudah banyak ditinggalkan. Konon katanya masjid-masjid sudah berubah dari masjid jawa ke masjid versi timur tengah. Entahlah
.
Teringat pernyataan pemipin grup sholawat dari salatiga, yang menyampaikan kekhawatirannya bahwa masyarakat islam di jawa tengah, jawa timur atau jawa barat, kemudian menjadi mengharamkan atau menjauhi gending, gamelan, kendang, bonang, slenthem, rebab, gong, saron calung dan sebaginya. Karena semua alat-alat gamelan tadi diharamkan oleh syeh atau ustadz timur tengah. Bwah……
Mereka warga islam jawa, lupa bahwa mereka menjadi islam, memeluk agama islam, ayah ibu mereka muslim, mbah mbah buyut moyang mereka muslim, atas jasa Sunan- sunan dan wali di tanah jawa menggunakan cara-cara jawa. Bahkan para syeh dari tanah sebrang itu, sekarang tidak lagi kemudian bedakwah mengajak memeluk islam. Kebanyakan mereka menyampaikan materi ilmunya juga kepada orang-orang yang sudah islam. Lhoh…. Iya toh…..
Kembali ke si bapak tadi, maksud saya pimpinan grup sholawat dari Kabupaten semarang itu, dia mengatakan begini. Saya berkendara dari anyer sampai ke Jawa bagian timur sekali, masjid-masjid bernuansa jawa sudah tidak ada, dipinggir-pinggir jalan raya, semua masjid sudah sangat bagus, megah dan indah. Tapi ini masjid versi timur tengah. Bukan masjid-masjid versi jawa. Lho kita tinggal di jawa, bukan di timur tengah, apakah jawa akan di jadikan timur tengah, tidak kan?
Dan leih miris lagi, tidak ada satu masjidpun memiliki gamelan sebagai pendekatan sarana mengumpulkan jamaah. Kalah dengan gereja yang ada di semarang, seminggu tiga kali, remaja-remaja gereja dilatih gamelan. Wow……..
Yang tersisa di masjid-masjid kita tinggal beduk atau jidur. Ya. Paling banyak rebana dan itu jelas bukan dari kita sebagai budaya jawa asli. Iya kan?
Pertanyaannya adalah…… )tak sholat subuh sek ya….) begini, akankah kita sebagai orang jawa melihat dan menyaksikan ramalan joyoboyo, Bahwa aka nada mas dimana wong jowo gari separo, wong jawa ilang jawane, pasar ilang kumandange.
“Kata tetagga sebelah” Wong jawa gari separo....tinggal orangnya saja jawa, masih bahasa jawa, masih suka rawon,pecel dan sambel terasi...suluk kulo nuwun sudah hilang. Pakaian jarik kebaya yang pakai malah orang bali...otak dan hatinya sudah bukan jawa apa lagi budayanya... Jawa artinya tidak punya musuh kenyataanya rukun sama saudara sendiri aja tidak. Saling curiga iya...
Yang konon selalu diributkan kalau nggak uang ya agama. padahal agama itu sekedar peta dan aturan lalu-lintas menuju tuhan mau liwat manapun silahkan mau pakai nama tuhan yang manapun silahkan..
Bung Karno pernah berpidato.”kalau jadi hindu jangan jadi orang india, kalau jadi islam jangan jadi orang arab, kalau jadi kristen jangan jadi orang yahudi. tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini.
Artinya kita kehilangan jatidiri sebagai orang dengan tumpah darah di tanah jawa, menjadi manusia yang seperti kacang lupa kulit, mangan, turu, ngising, lahir, dolan, gedi di tanah jawa, sekolah pinter di tanah jawa, gurunya orang jawa, namun setelah itu lupa siapa kita, menjunjung tinggi budaya timur tengah. Aaaah Islamisasi Yes, Arabisasi No.
Salam seduluran.
Kendal 18 Juni 2016.

Ramadhan atau Ramangan ‪#‎asukluruk‬


Alhamdulillah, Sahur seadanya dan secukupnya. 14 Ramadhan 1437 Hijriah (19 Juni 2016)
Sungguh semrawut dan sulit fokus aku pagi ini, entah karena makan sahur yang sama sekali jauh dari standar gizi yang disarankan dokter atau karena hawa dingin yang muncul pasca hujan semalem. Atau mungkin karena tadi tendangan penalty Kristiano Ronaldo gagal menembus gawang Austria. Bola justeru mengenai tiang gawang sebelah kanan. 

Bisa juga karena kepanikan panjang yang terpaksa membuat aku merasakan hujan lebat dari sendang kulon sampai pombensin weleri, balik lagi sampai nokerto. Tanpa jas hujan hanya dengan kaos hitam kiai kanjeng.

Aaaah kemarin itu hari yang super sekali. Aku sedikit kurang nyaman (agak marah juga) sebenarnya terlalu jauh kalau dibilang marah. Enggak marah, hanya tidak nyaman sama sekali. Sedari pagi anakku diajak ke pasar weleri oleh simbahnya dan hingga jelang ashar belum pulang juga. Hujan mengguyur weleri sejak bakda dhuhur awal. Aku yang paning dirumah stress. Mondar mandir, kesana kemari tiap ada suara motor, berharap anakku pulang. Hingga akhirnya aku dan isteriku sepakat menyusul ke weleri.


Sampai akhirnya kami berpapasan dekat pom bensir timur, masih dalam guyuran hujan cukup lebat. Yaaaa takdir menggariskan bahwa hari ini kami harus begini. Bismillahi tawakaltu ‘alallooh.
Imsak pagi ini, aku menerima kabar bahwa Tambak Banyumas terjadi banjir. Tambah panik, tak bisa aku lanjutkan menulis. Speechless. Blank…… Pasrah Pad Mu Allah. Berfikir tentang saudara kami, sahabat kami, sawah kami. Semoga baik-baik saja. Amin.
(Kendal, 19/6/2016)

Cinta Butuh Paket Data. Update Statuslah…. #asukluruk


Dua hari ini, kurasan emosi begitu menyedot energy. Sabtu, sebagai manusia lumrah jika merasakan panic, was-was dan marah. Sebagai orang tua, ayah dari anak yang sudah jelas pasti sangat mencintai keluarga. Aku panic karena anakku diajak sama Simbah dan Budenya, belanja di pasar weleri. Dari jam 9.30 sampai jam 15.00 belum pulang. Sementara mereka tidak membawa Hp.
Dalam kepanikan, saya mondar-mandir saja dalam rumah, kedepan kebelakang, kekamar keluar kamar, muter-muter. Nongkrong di teras rumah, masuk kedalam, keluar lagi. Tiap ada suara motor Honda matik, harap-harap cemas semoga itu mereka pulang.
Isteriku menyuruhku tidur, semakin dia menyuruhku tenang, semakin aku ngomal-ngomel. Panic akut. Sampai jelang ashar , isteriku mengusulka untuk menyusul mereka. Langsung aku jawab, Sepakat. Tanpa piker panjang, hanya mengenakan kaos oblong, celana pendek, dan setelah memasukan jas hujan, berangkatlah kami.
Belum jauh dari rumah, melihat keselatan, terlihat rona hujan lebat. Sepanjang jalan isteriku diam saja mendengarkan omelanku, pelepas kepanikan. Opo blanjane ntek rong milyar, ko di pasar sampai setengah hari. Apa blonjone akeh?
Perhitungane nek membeli baju satu baju cukup waktu 20 menit, lima menit pertama mengamati, memeriksa 15 menit selanjutnya nyang-nyangan dan membayar. Apa belanja baju banyak sekali?
Nek lunga ngejak anak mbok selain hari sabtu dan minggu, mengingat aku liburnya pada dua hari itu. Biar aku bisa banyak waktu bersama anakku. Walah…….
Saat mau masuk jalan utama sendang kulon, huja deras datang, kami berhenti dibawah pohon balinci, depan took kelontong samping kanan pertigaan itu. Isteri yang memakai. Dompet hp dan lainnya aku serahkan padanya.
Sepanjang perjalanan menuju weleri, aku dan isteri melihat-lihat sekelompok orang yang berteduh di kanan kiri jalan. Terutama di tempat-tempat umum. Siapa tau disitu ada motor yang dikendarai mereka. Tidak ada juga. Masuk ke pantura hujan semakin lebat. Aku meludah berulang kali, kekanan dan kekiri, kadang juga kebawah dan jatuh di badan motorku. Maklum orang puasa kan gitu, kalau kehujanan. Produksi air ludah meningkat dan mau menelan khawatir mengurangi kekhusukan berpuasa. Entahlah.
Setiap kali berpapasan dengan kendaraan isteriku tampak menyimak dan memperhatikan saksama. Masuk montong, mendekati pom bensin kami berpapasan dengan mereka. Alhamdulillah. Mereka belum tau kalau kami menyusul di belakang. Hingga kemudian lampu merah pertigaan sebelum weleri, aku berhenti tepat disamping mereka.
Aku diam isteriku yang bebicara dengan ibunya. Aku mendenga bahwa mereka tertahan hujan. Seorang bapak yang mengalami hal sama, tertahan hujan di weleri mengatakan bahwa hujan turun dari jam 12.30 siang, sampai sekarang  belum reda.  
Begitu masuk kecamatan rowosari, di Wonotenggang, hujan mereda. Masuk Sendang hujan sudah reda sama sekali. Alhamdulillah. Pakaian basah, ya sudahlah.
Intinya begini, manajemen waktu dan kalau bepergian bawalah hp. Supaya bisa SMS atau telpon. Komunikasi itu penting. Atau buat update status biar tau keadaan sekitar. Lha buat apa punya hp kalau fungsinya tidak digunakan sebagaimana mestinya?
Yah pengalaman ini, membuatku berpikir untuk sesering mungkin update status. Sehingga orang bisa mengetahui posisiku dan bagaimana situasainya. Itulah pentingnya Hp, paham?
Cinta itu butuh paket data. Ternyata…..
Salam seduluran.

Semarang, 20 Juni 2016.

Sabtu, 11 Juni 2016

Sholat Isya Yang Cemburu ? ‪#‎asukluruk‬


Alhamdulillah. Saur seadanya dan secukupnya. Saat duduk di teras depan rumah. Mengarahkan pandang ke mushola dan yang menarik pandang adalah seekor cicak merayap didinding barat pojok selatan beberapa jengkal dari lampu putih mushola. Entah apa yang sedang digagas cicak. mungkin dia bujangan sedang mikir gadis idaman. Atau dia jantan yang sedang mikir isterinya di rantau. Atau adalah orang tua sedang mikir keluarganya bahwa lebaran sebentar lagi.

Atau mungkin dia sedang sibuk mencari makan sahur untuk puasa hari ini. Aku hanya menduga dengan segala kemungkinan. Lima menit setelah imsyak. Si cicak masih disitu. Bahkan Kini sudah ada satu lagi. Cicak senasib atau tetangga. Atau pasangannya. Atau selingkuhannya. Atau juga bahkan anaknya.
Kumandang adzan di Mushola mengalun selayaknya. Cicak terdiam dan seperti sedang menyimak adzan. Atau mengincar nyamuk atau mahluk sejenis yang suka cahaya lampu mushola pojok baratdaya..
Doa adzan subuh selesai. Aku mengamininya. Saat muadzin mengucapkan Ya Arhamarohimin. Kulayangkan pandang ke langit. Bintang utara sebelah kubah terlihat ada 3 dan bintang selatan sebelah kubah ada 5. dan dua terlhat samar.
Sesamar aku berfikir. Tentang Sholat Isyak ku tadi malam bagaimana? Sementara taraweh dan tahajudnya sudah. Apakah sholat isyak tidak cemburu karena banyak yang mengejar traweh saja.
Aaaah sholat isya sudah dewasa bahkan tua untuk cemburu. Dia sudah diatas ikhlas. Sholat isyak ku I Love you better....
‪#‎waniperih‬

Kendal 11Juni 2016

AKHIR KISAH KUBAH TUA MUSHOLA ‪#‎asukluruk‬


Bintang –bintang langit yang kulirik sebentar pasti bintang yang kemarin aku lihat, namun dengan pengalaman dan kejadian yang berbeda tentunya. Seperti perbedaan takdir pada setiap diri mahluk yang Allah ciptakan.

Kubah lamat-lamat, kulihat. Bagus . hanya saja warnanya kusam termakan umur. Terik panas dan guyuran air hujan pesisir, membuatnya terlihat renta. Kubah dengan pucuk bulatan melingkari lafadz Allah. Yang aku rasa dia sebagai kubah disitu usianya tidak akan jauh lagi, yaa … selepas ramadhan paling lama, kubah itu akan dicopot dan diganti kubah baru.

Kubah seng atau aluminium itu, berada disana untuk pergi tinggal menunggu waktu. Kubah itu akan menjadi rongsokan untuk dijual ke pengepul tukang rosok. Ya kubah penanda bahwa itu baitullah, rumah Allah, tempat orang bersujud atau masjid, atau mushola. Berakhir menjadi barang rosokan.
Kubah dengan Lafadz Allah dipucuknya. Sebagai penanda bahwa itu tempat menyembah pasrah kepada Allah. Jika sudah terlalu tua, renta dan jelek, akan kembali menjadi barang tak berguna dan bersama rosok lain akan menyatu. Rosok apa saja. Entah itu rosok dari kipas angina rumah bordil, rosok dari monitor tempat karaoke, atau rosok dari lampu diskotik dan club night. Entahlah….. nasib kubah tua yang pasrah.

Kubah yang berjasa menjadi penanda. Kubah yang dulu kemilau indah kena cahaya surya. Dipuji karena bagusnya. Menjadi penyemangat keindahan mushola, kini renta dimakan usia. Aku memandangnya sepanjang tujuh hari saban bakda sahur. Sambil duduk di teras rumah. Sembari menikmati apa saja, selama sisa waktu boleh sahur menuju imsak dan subuh ramadhan.

 Aku memandangmu penuh cinta. Sepenuh cinta aku berusaha, atau sepenuh aku berusaha cinta. Seperti yang pernah mereka lakukan dulu. Dulu sekali, semasa mudamu, kubah yang akan segera terganti oleh kubah baru yang lebih muda fresh dan lebih mahal. bro... Takdir kita telah terukir.

Kendal 7 Ramadhan 1437 Hijriyah
Kyai Suwung.

Toa Yang Memaksa ‪#‎asukluruk‬


Alhamdulillah, makan sahur seadanya dan secukupnya. Hari ketujuh berpuasa. Seperti sebelumnya aku duduk di teras depan rumah. Kali ini menghadap keutara yang artinya aku melihat lorong samping rumah. Lorong sepanjang kurang lebih seratus meter. Terlihat remang.
Sementara kubah masjid terlihat lamat-lamat. Di bawah kubah ada dua lampu sudut kanan dan kiri serta satu speaker toa. Sedikit menghadap ke rumah kami. Kemudian saya paham kejadian semalam. Rupanya speaker masjid itu sedikit menghadap ke rumah kami. Ya memang pasnya begitu, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, harus begitu speaker nya biar pas posisinya. Menyesuaikan bentuk kubah biar pas.
Maka mau tidak mau biarpun sedikit tapi kami lah yang pasti mendapatkan jatah suara lebih banyak ketimbang yang lain ketika ada suara apa saja dari speaker itu. Entah adzan, entah qiroah, entah tadarus entah sholawatan, entah pengumuman, entah berita lelayu, entah panggilan rapat, entah lah….. Alhamdulillah.
Saya berfikir pasti mushola ini dibangun setelah adanya rumah ini, termasuk juga rumah tetangga. Maka siapa saja harus menyesuaikan dengan mushola. Keberadaanya sebagai poros tengah kampung kami. Kami hanya berusaha menyesuaikan, menyesuaikan dengan keadaan, toh suara keras qiroah dan tadarus itu hanya rutin saat malam hari di bulan yang konon suci. Bulan ramadhan.
Aku berfikir tentang itu, ya batasan waktu tadarus menggunakan speaker itu mestinya jam 10 malam. Melebihi itu sepertinya akan berimbas kepada kuping yang terlalu over mendengar suara keras. Meskipun itu kalimatullah. Jangan memaksakan apapun kepada orang meskipun itu kebaikan. Speaker itu memaksa. Memaksa sebagian manusia untuk mendengar. Apa sebagian kita juga baik karena terpaksa? Ya. Memaksa. PASTI.

Kendal 7 Ramadhan 1437 Hijriyah
12/06/2016